" Siapa laki-laki bermoge dengan burung raksasa di bahunya itu ya? " bergumam aku dalam hati. Dari kejauhan aku terus memperhatikan kerumunan orang-orang yang menonton laki-laki dan burung raksasa yang bertengger jinak di bahu kirinya. Ku pelankan laju motor matic ku, kucari posisi parkiran yang agak jauh, sengaja menjauhi orang-orang yg mengerubungi laki-laki dan burung raksasa itu. Aku tak ingin orang-orang jadi tau bahwa aku juga ikut jadi penonton seperti mereka. Ku atur posisi kaca spion motorku, agar bayangan laki-laki bermoge dan burung peliharaannya itu jelas tertangkap di kaca spion motorku. "Hmmm... siapa laki-laki ini ya? sepertinya warga pendatang baru, ataukah mantan gerilyawan dari swedia, secara dia muncul dari arah rumah besar berbendera merah garis hitam Gampong punge blang cut " aku membatin sendiri di tepi jalan. Laki-laki itu berperawakan tinggi besar, berjenggot, brewok penuh di wajahnya. Dia memakai jeans belel, berkaos putih rada-rada buluk, dan menggunakan topi cowboy ala Alpacino. Entah apa yang dia jelaskan pada orang-orang yang mengerubunginya. Aku menebak mungkin dia menjelaskan tentang burung raksasa jenis kakak tua peliharaannya yang berparuh runcing, berbulu putih. "Apa dia tidak takut terjerat pasal UU perlindungan hewan langka? ah... akupun tak hafal satupun bunyi pasal UU tersebut" aku tersenyum sendiri, sebab hanya tiga jenis UU yang sebagian masih bisa ku hafal, UU perkawinan, pasal 29 ayat 1 UUD 1945 dan baru baru ini aku mulai menghafal UU Pers. Kucoba merogoh kantong bajuku, berharap di sana kutemukan android jadulku, tujuan akhir adalah memotret diam-diam lelaki bermoge jenis CB kuno dan burung raksasanya. "Aduh.... emang penyakit lupa ini sudah bersenyawa denganku, androidku ternyata lupa kubawa serta, hilanglah kesempatan mengabadikan objek foto yang keren ini" sesalku dalam hati. Beberapa orang yang lalu lalang di hadapanku, mulai menatapku aneh, pikir mereka "ngapain ibu big beautiful ini menatap jauh ke dalam kaca spion motornya" Duuuh... dari pada bertambah grogi karena ketahuan habis mengintai, mending lanjutin perjalanan pulang, tancap gas gak berani lihat kanan kiri.
Laksmana Oemar
Kamis, 01 Oktober 2015
Senin, 03 Agustus 2015
Selalu tentangmu Neuk Meutuah
Setelah dua hari keberangkatannya ke Asrama Tahfidz untuk mondok selama satu tahun awalnya yg kurasakan adalah hal yg biasa saja, hanya saja rasa kehilangan begitu terasa pada shubuh pertama di hari itu. Seperti biasanya, kuketuk dengan lembut pintu kamarnya dan mengucap salam, setelah menunggu beberapa saat dan belum juga ada jawaban dari putra sulungku evan, dengan pelan kubuka pintu kamarnya dan yg kudapati hanya tempat tidurnya yg kosong, sejenak aku berdiri terpaku baru beberapa saat kemudian aku tersadar dan beristighfar.
Aku tersadar bahwa putraku tak lagi ada bersamaku, evan telah berangkat mondok selama setahun di Asrama Tahfidzul Qur'an UICCI Sulaimaniyah Turki cabang Aceh, rasa sedih seketika menyapaku di shubuh itu, walaupun selama tiga tahun terakhir ini evan juga tidak bersama kami, tetapi di setiap sabtu sore kami selalu boleh menjemputnya untuk berakhir pekan bersama di rumah, tapi setelah tamat dari mondok di Asrama pusat peuniti kini evan sudah harus mondok di Asrama Tahfidz Blang Bintang dan dengan peraturan yg baru hanya boleh di kunjungi dalam waktu satu bulan sekali kunjungan, duhai Ananda meutuah entah mengapa malam ini begitu sulit Ibunda menghilangkan kerinduan akan menatap wajahmu ketika engkau terlelap dalam tidurmu setelah engkau menyelesaikan hafalan ayat_ayat suci itu
Duhai Ananda betapa hati ini merasa kehilangan sosokmu yg begitu menyayangi kami semua, ketika kau menghabiskan liburan di rumah, betapa terasa ringan tugas kenegaraanku di rumah karena engkau turun tangan menyelesaikan tugas itu mulai dari menyapu, memasak nasi, membereskan rumah, mencuci, menjemur bahkan sampai menyetrikapun kau bersedia Neuk meutuah, keberangkatanmu kali ini telah menyisakan ruang kosong di hatiku Neuk meutuah, maafkan kami yg tak ikhlas ketika engkau memilih mondok di Asrama Bogor, dan Allah mendengar suara hati kami yg akhirnya Allah mantapkan hatimu untuk memilih mondok di Blang Bintang, setidaknya kami masih bisa berkunjung walau hanya satu bulan sekali
Insyaallah akan kami pupuk keikhlasan kami untuk melepasmu pergi jauh ke Negeri Al_fatih tahun depan dalam jangka waktu yg lama, Insyaallah Allah mudahkan, Allah hapus rasa sakit karena rindu untukmu Neuk meutuah
Karena semua yang kita miliki sesungguhnya hanya titipan Ilahi, ukir mimpimu, genggam erat citamu, jangn takut, jangan menyerah.
Do,a kami tak pernah putus untukmu. Allah akan terus menjagamu, menyehatkan jiwa ragamu, kamu yang terlahir dari orangtua yang biasa saja dari keluarga yang teramat sangat sederhana sedari sejak lahir telah Allah istimewakan dengan anugerah sakit yg sampai hari ini masih tetap harus kau pikul bahkan mungkin sampai nafas masih berada di ragamu, tapi semangatmu tetap menjdikanmu BINTANG yg sedari sejak TK sampai SMP telah mengharumkan nama sekolahmu, masih lekat di ingatanku suaramu dalam rintih karena sakitmu kambuh engkau berucap " Mamaaa suatu saat Abang tidak akan membiarkan Mama dan Ayah bekerja sekeras ini, Abang akan meminta Mama dan Ayah untuk beristirahat Abang yang akan bekerja untuk menyekolahkan adik_adik Insyaallah Abang pasti mampu dan bahkan Abang akan bermanfaat untuk orang lain"
Duhai Anakku terkasih, tahukah engkau betapa ketika itu air mata ini begitu sulit untuk kuredam, bergemuruh dadaku, di usiamu yg masih belia telah tertanam sifat pemimpin, sifat tanggung jawab yang luar biasa,
Anakku malam ini Aku merinduimu dalam do,a dan air mata, kurangkai do,a terindah untukmu, selamat berjuang anakku terkasih, kami menantikan kado terindah dan teristimewa dari Allah Mahkota dan jubah dari Matahari atas perjuangan dan pengorbananmu